Menyiapkan Anak Menghadapi Perceraian Orangtuanya

17 Nov 2012

21c131a3fa4f2f92fb1009acb92baa2f_bertengkarRepublika.co.id melaporkan bahwa angka perceraian di Indonesia terus meningkat secara tajam. Sejak tahun 2005 tingkat perceraian naik 10 persen setiap tahunnya. Penyebab terbanyaknya karena ketidakharmonisan, tidak bertangungjawab dan masalah ekonomi.

Hal yang lebih mengejutkan adalah laporan dari temuan Marck Cammack, guru besar dari Southwestern School of Law-Los Angeles, USA. Beliau menyimpulkan bahwa angka perceraian di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tergolong yang paling tinggi di dunia. Ia memberikan data perbandingan bahwa dari 100 perkawinan, 50 di antaranya berakhir dengan perceraian. Dan ironisnya, 70% perceraian diajukan oleh pihak isteri alias gugat cerai.

Tentu saja hal ini sangat memprihatinkan. Sebagaimana kita tahu perceraian adalah momok mengerikan bagi siapapun yang menjalaninya. Entah bagi si suami ataupun si istrinya sendiri. Trauma yang ditinggalkannya tidak bisa hilang dalam sekejap mata.

Tetapi ternyata yang paling merasakan akibat buruk dari perceraian adalah anak-anak. Mereka menjadi pihak yang pasif, yang harus menerima saja dengan pasrah keputusan orangtuanya. Bahkan kadang sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dan dampak buruknya banyak sekali. Salah satunya anak bisa menjadi stres.

Nah, jika perceraian harus terjadi dan tak bisa dielakkan lagi maka sebelumnya orangtua harus melakukan beberapa tindakan agar perceraian tidak begitu berdampak negatif pada anak. Untuk itu persiapkanlah anak sebelum proses perceraian orangtuanya.

Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua :

Hilangkan rasa marah dan sakit hati orangtua untuk membicarakan kepentingan anak Anda sebelum waktu perceraian tiba. Setelah ada kesepakatan tentang anak, maka beritahu anak-anak Anda secara bersama-sama pula. Hal itu berguna untuk memberi kesan baik bahwa orangtua tetap bisa bekerjasama untuk kepentingan anak-anak mereka. Anak-anakpun akan lebih merasa dihargai jika berita perceraian itu datang dari kedua orangtuanya sendiri, bukan dari bibi, paman atau yang lainnya.

Di hadapan anak, orangtua harus bisa bersikap tenang. Kalau Anda menyampaikan berita itu dengan tenang, maka hal itu bisa mengurangi kecemasan anak. Berbeda jika orangtua mengungkapnya dengan emosi, bersuara keras dan saling menyalahkan. Hal itu bisa membuat anak sangat gelisah. Gunakan selalu kata “kita” untuk menjelaskan keputusan yang dibuat. Hal itu untuk menegaskan bahwa itu keputusan bersama dan tidak ada yang salah dengan “ayah” atau “ibu”.

Jangan lupa berikan alasan yang spesifik yang bisa dimengerti anak tentang alasan perceraian. Tetapi kadang tindakan seperti ini tidak berguna. Anak yang agak besar cenderung tidak mau tahu. Ia lebih memikirkan hari esok dimana akan terjadi perubahan besar pada dirinya.

Untuk itu berilah anak informasi yang jelas seperti apa yang nanti bakal terjadi, dimana mereka akan tinggal, dengan siapa dan lain sebagainya. Berikan jaminan kepada anak, walaupun ada salah satu pihak yang meninggalkan rumah, tetapi mereka akan tetap mencintai anak seperti biasanya.

Bersiaplah dengan berbagai reaksi anak. Mungkin akan keluar kata-katanya yang tidak terduga, pertanyaannya yang bisa membuat orangtua sulit menjawabnya atau tindakan seperti menangis dan marah. Peluklah dan berikan kasih sayang, biarkan anak mengekspresikan perasaan mereka. Setelah itu berilah anak waktu untuk menyesuaikan diri dengan keputusan orangtuanya. Berusahalah sekuat tenaga agar kehidupan mereka menjadi tidak tertalu timpang atau tetap stabil. Dengan demikian anak lebih siap menghadapi perceraian sehingga sedikit demi sedikit bisa menerima keadaan baru yang menimpanya.

Sumber utama : http://singleparents.about.com/od/communicatingwiththekids/tp/Tell_the_Kids.html dengan berbagai perubahan redaksional.


TAGS 48615


-

Author

Follow Me