Peran Seorang ibu Dibalik Kesuksesan Anaknya

3 Jul 2012

dokumentasi pribadi
Aku merenung. Pagi ini kuhabiskan segelas susu dengan tenang. Menikmati semangkuk kecil nasi goreng buatan sendiri sambil membaca artikel di komputer. Pelan anakku mendekati, meraih tanganku dan mengucapkan salam. Melihatnya memakai baju seragam, aku jadi teringat tulisan yang sedang aku buat. Tentang pendidikan di Indonesia. Aku pun jadi terbayang nilai-nilai sekolah anakku yang jadi acuan ujian. Tentang rankingnya yang hanya masuk sepuluh besar. Kembali bertanya-tanya seberapa besar peluangnya masuk jalur undangan, PMDK atau SNMPTN?

Tidak ada kepastian jawaban. Walaupun aku meyakini sebagian besar kunci kesuksesan itu terletak pada pendidikan. Tapi itupun bukan sebuah jaminan, karena pendidikan juga mempunyai batas-batas kemampuan. Atau lebih tepatnya aku sangat setuju dengan pengklasifikasian jenis kecerdasan yang digagas Howard Gardner dalam teori Multiple Inteligences-nya. Itulah kunci kesuksesan. Bukan semata kemampuan intelektual yang terlalu diagung-agungkan.

Kenapa banyak orang tidak pernah belajar dari kasus Thomas Alfa Edison misalnya? Usia 7 tahun saja ia sudah dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh dan terlalu banyak bertanya. Tetapi bukankah banyak bertanya adalah ciri ingin tahu yang merupakan salah satu ciri orang yang kreatif ? Terlebih yang bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Faktanya kini ia menjadi penemu terbesar sepanjang sejarah hidup manusia. Kalau tidak karena kasih sayang ibunya, apalah jadinya ia. Seorang ibu adalah manusia yang paling tahu siapa anaknya. Maka ibunya Edison begitu percaya kalau sebenarnya anaknya mempunyai sebuah kemampuan. Dia meninggalkan pekerjaan sebagai guru dan menjadi guru hanya untuk anaknya. Ia menjawab semua pertanyaan yang bisa ia jawab. Ia juga mencari orang yang ahli jika tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Tak lupa ia membekali anaknya banyak buku untuk belajar.

Kasus serupa menimpa Albert Einstein juga. Dia dianggap bodoh, dungu dan lamban dalam pelajaran. Tetapi ternyata anak-anak yang dianggap tidak ada apa-apanya itu malah jadi ilmuwan besar dan sangat terkenal.

Begitu pun Mahatma Gandi, sosoknya yang pemalu malah menorehkan sejarah tersendiri bagi negaranya, bahkan bagi dunia. Ketika kecil ia hanya menjadi murid yang biasa saja. Ia begitu pemalu dan menghindari pergaulan. Teman sejatinya hanya buku. Bahkan saking pemalunya, setiap pulang sekolah ia berlari. Hal itu dimaksudkan karena ia tidak punya keberanian jika harus berbicara dengan siapa saja.

Begitu saat ujian mengeja kata kettle, semua murid bisa melakukannya, kecuali ia. Ia merasa bodoh. Dan guru pun mencoba membantunya sampai harus mengetuk sepatu bootnya. Tapi tetap saja Gandi kecil tidak bisa menjawabnya. Walau begitu, Gandi kecil tetap menghormati gurunya. Ia tidak mempedulikan tindakannya tetapi menuruti perintahnya sebagai orang yang lebih tua.

Mengingat Gandi kecil, kembali aku mengingat bagaimana rasa hormat anak sekarang terhadap orangtua dan guru semakin berkurang saja. Bukan satu dua kasus, anak bisa balik memarahi orangtuanya bahkan melempar barang-barang yang ada di sekitarnya agar bisa terpenuhi keinginannya. Dan guru yang harusnya dihormati dan dituruti, mereka lebih sering dicemoohkan dan dibicarakan kekurangannya di belakang. Susah memang menjadi orangtua atau guru panutan di jaman sekarang.

Berbeda sekali dengan sikap Gandi. Ah, mungkin karena Gandi mewarisi keluhuran ibunya yang sangat religius. Nilai-nilai moral diwariskan lewat keteladanan. Beliau tidak akan makan kalau belum sembahyang harian. Dan di kuil, ibunda Gandi tak takut mengucapkan ikrar terberat kemudian menjaganya tanpa rasa takut. Bahkan sakit tidak jadi alasan untuk melonggarkannya.

Konon ibunda Gandi juga adalah wanita yang mempunyai pengetahuan yang luas. Kecerdasannya banyak dikagumi wanita di desanya. Ia paham semua masalah negara. Pun, ayahnya, ia seorang idealis yang sangat mengedepankan kejujuran. Semua itu membentuk kepribadian Gandi sehingga ia bisa menorehkan sejarah tersendiri dalam perjuangannya.

Kembali kepada diri kita masing-masing, sudahkah kita menjadi ibu atau orangtua yang bisa mendorong kesuksesan anaknya? Jawabnya tentu saja hanya kita yang tahu.


TAGS Gandi peran ibu pendidikan Thomas Alva Edison Albert Einstain


-

Author

Follow Me