BURGER CINTA UNTUK BEN

13 Feb 2011

Ben adalah pria asal Perancis. Tetapi aku sering lupa kalau ia berasal dari sana. Kealpaaanku karena ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Waktu ia datang pertama kalinya aku malah mengajaknya makan nasi. Ben menolak dengan halus. Padahal ia belum sarapan. Di rumah pun hanya disuguhi teh manis saja, Karena ia tidak makan goreng-gorengan. Konon ia menghindari kolesterol walau tidak secara ekstrim.

Siangnya dia bercerita bahwa makanan pokoknya adalah roti. Pun di Jakarta. Sesekali spageti. Ia pun makan nasi padang, tapi seminggu sekali dan harus malam hari. Lalainya aku, sampai tidak tahu masalah itu.

Jangan suruh aku makan nasi, apalagi pagi-pagi begini, aku tak biasa, tidak enak rasanya di perutku. Oh Tuhan, maafkan aku Ben, aku tidak tahu. Aku berjanji jika engkau datang kembali nanti, akan aku sediakan roti.

Sabtu itu pun tiba. Ben berjanji untuk datang. Segera setelah supermarket buka aku membeli roti bulat yang untuk burger. Kemudian aku membeli saus tomat dan cabe yang harganya paling mahal. Berharap kedua produk itu memiliki rasa dan kualitas yang prima. Aku juga membeli daging tipis, aduh sampai lupa apa ya namanya. Pokoknya itu deh. Ah ya, daging asap! Kemudian aku membeli seperempat kilogram daging cincang dan bumbu-bumbu. Tetapi aku tidak membeli selada dan tomat di supermarket. Aku segera ke pasar untuk membeli kedua sayuran itu, karena di pasar harganya lebih murah sekalian ada beberapa barang lagi yang harus aku beli di sana.

Sampai di rumah langsung kutelepon seorang teman. Ia dulu pernah kuliah di Amerika dan bisa membuat burger dengan dibubuhi sedikit daging cincang berbumbu yang membuat rasa burger itu lebih istimewa. Lebih nikmat dari burger yang ada di pasaran. Setelah dia memberikan tipsnya, aku mulai praktek.

Agak gemetar juga membuatnya. Ada perasaan tidak percaya diri melanda. Maklum Ben adalah orang kaya yang terbiasa makan dengan cita rasa istimewa. Kalau aku yang masak, terbayang bagaimana rasanya. Aku benci memasak, makanya aku tak begitu pandai memasak. Tapi untuk Ben, aku membuka buka buku resep masakan, membeli tabloid makanan dan mau memaksakan badanku untuk melakukan kegiatan yang paling kubenci itu.

Karena ingin hasil yang bagus, aku tak memakai blender untuk mengolah bumbu. Kugunakan ulekan batu untuk menghaluskan bumbu. Sesuatu hal yang menyebalkan itu anehnya bisa kunikmati. Malah aku ingin sempurna, harus halus semua, tak boleh sedikitpun ada yang kelihatan masih kasar.

Lalu aku menumis bumbu-bumbu yang sudah diulek tadi. Juga irisan bawang bombay dan paprikanya sekalian Kumasukkan daging cincangnya kemudian. Aroma menggoda terasa menusuk hidung. Kububuhkan sedikit garam dan merica. Ketika mendidih aku mencicipinya. Hm, aku terpukau dibuatnya. Suer, enak!

Kok, perut rasa keroncongan. Lalu kucoba satu sebegai eksperimen saja. Daging asap kucetak dengan bentuk hati. Aku berharap Ben membukanya dan melihat hal itu sebagai kejutan. Sepotong roti bulat kutempeli daging asap yang telah digoreng dengan sedikit mentega. Dioles sedikit daging cincang berbumbu. Selada bokor, tomat dan terakhir saus tomat dan cabe. Oh my God, sungguh aku tidak bohong, rasanya enak! Bahkan aku sendiri tidak percaya aku bisa membuatnya.

Habis satu aku mau lagi. Aku buat satu lagi. Lalu kutahan kemauanku untuk menambah lagi. Buat Ben mana?

Siang itu ada yang mengetuk rumah sambil mengucapkan salam. Aku berlari mendekat. Tersenyum aku melihat kehadirannya. Calon suami mantan pacar onlineku itu menanyaiku, Lagi apa Ui?

Baru selesai memasak, jawabku. Masuk, ajakku.

Ia masuk.

Aku mencium aroma masakan yang menggairahkan, katanya sambil mencium-cium sesuatu. Melihat Ben begitu, aku jadi teringat sosok tikus di film- film kartun.

Aku buat burger, kataku malu-malu.

Oh ya? Bisa gitu?

Ben, walau aku tidak pandai memasak, kalau sekedar membuat burger aku bisa, cemberutku. Lalu aku mengambilkan air putih buatnya. Dan membuat sebuah burger sesuai permintaannya.

Kalau tidak enak, maaf Ben. Lihatlah perjuangannya ya, jangan lihat hasilnya.

Ben tersenyum saja.

Ia tersenyum kembali melihat aku menghidangkannya dalam piring ceper kecil berbunga. Disampingnya aku hiasi tomat bentuk bunga dan selada yang dibuat melingkarinya.

Kau surprise sekali dengan burger itu.

Aku tersenyum saja.

Dia mencicipinya. Aku melihatnya. Nampak dia menikmati. Hatiku deg-degan dibuatnya, takut Ben tidak menyukainya.

Enak, pujinya sambil melahap burger itu.

Serius? Tanyaku.

Rasanya lain, tambahnya lagi.

Aku bersorak dalam hati. Jika aku jadi istrinya nanti, aku telah bisa memanjakan cita rasanya. Tentu saja aku bahagia karenanya. Kita lalu terlibat serius dalam percakapan tentang pernikahan kita. Dan malamnya ketika sudah sampai di apartemennya, dia meneleponku dengan riangnya.

Sabtu nanti aku kembali, jangan lupa buatkan aku burger yang seperti itu lagi ya?

Aku bersorak dalam hati.

Thanks honey, kamu penuh perhatian padaku, lanjutnya lagi sebelum menutup teleponnya.

Aku tersenyum. Wow, Ui yang pandai membuat burger. Siapa dulu dong. Aku gitu!


* * *

burger

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Sajian Istimewa masukdapur.blogdetik.com.


TAGS lomba makanan sajian istimewa


-

Author

Follow Me