KAMUFLASE CINTA DAN HUJAN

22 Jan 2011

Masih ingatkah kau Panji, berapa kali hujan turun kita berada di sini? Memandang bulir bulir air turun menyapa bumi. Dari kaca kafe di lantai tiga itu, kita menikmati ludah awan menyapa daun daun. Menyaksikan mereka menjentik mobil, motor, orang orang yang lari berduyun duyun.
Dan kita Panji, seperti biasa kita menikmati sepotong sandwich. Sambil sesekali mereguk kopi. Dan aku dengan air jeruk hangat itu. Kita mengobrol kesana kemari. Sesekali cerita lucu mewarnai obrolan kita. Lalu kita tertawa tawa bahagia bersama.
Berapa kali dalam satu bulan kita melakukan itu? Aku tak pernah menghitungnya. Yang kutahu, hampir tiap hari kita berada di kafe itu. Bahkan wajah wajah pelayannya sudah kita kenal dengan baik. Pastinya mereka sudah mengenal kita juga. Bahkan mungkin mereka bosan melihat muka kita tiap sore menghiasi kafenya. Hm
Panji sayang, mengulang kisah hujan, waktu itu kita sedang berjalan di tengah alun alun. Tiba tiba ia datang dengan derasnya. Kamu langsung menarik lenganku. Dan kita berlari, kemudian berteduh di beranda mesjid Agung.
Lalu kau menawari aku semangkuk cuangkie. Setelah mengangguk, tak lama kau membawakannya ke hadapanku. Lalu menanyaiku mau minum apa. Segera keliling mencari air jeruk hangat. Tak ada. Kemudian aku lihat dua teh botol sudah tergenggam di kedua tanganmu.
Aku sudah mengitari mesjid. Penjual jus banyak. Tapi yang hangat tak ada. Kalau dingin, aku yakin kamu tak suka, lirihnya menyesal.
Aku tersenyum. Dia paling hapal makanan dan minuman kesukaanku.
Hujan masih tak bisa kompromi. Kelihatan seperti marah. Tambah kencang tekanannya. Ditambah angin yang ikut berpartisipasi menyebarkan sensasi. Lihat saja, pohon beringin yang sengaja ditanam di tiap sudut taman, daun daun atasnya. nampak miring. Duh
Aku merapat ke dinding mesjid, mencoba melawan dingin. Kau masih setia duduk di sebelahku. Melihatku menyilangkan tangan di dada, kau membuka jaketmu dan memakaikannya padaku. Seiring dengan itu gema adzan magrib berkumandang.
Aku shalat dulu. Jika sebentar lagi hujan reda, aku antarmu pulang ya?
Aku hanya mengangguk. Sedikit kecewa juga. Rencana membeli aksesori jadi tertunda.
Shalat yuk! Ajaknya.
Aku memonyongkan mulutku.
Malas, jawabku.
Dia tersenyum lalu menggosok kepalaku laksana pada anak kecil saja.
Hati hati, jangan kemana mana sampai aku kembali, pesannya wanti wanti.
Aku cemberut. Beberapa kali aku diperlakukan begitu. Gara- gara ingin punya adik perempuan, dia memperlakukanku seperti itu. Dan gara gara aku ingin mempunyai kakak laki laki, aku pun manja sekali padanya. Klop sudah.
Kita pernah cantelan kelingking dan meresmikan status kita. Bahwa kita adalah kakak dan adik. Bukan pacar, bukan sahabat, walau bukan terlahir dari rahim yang sama. Tepatnya, kita adalah kakak dan adik angkat.
Menjelang Isya, hujan tak juga mereda. Ia kemudian merayuku untuk shalat Isya. Aku beranjak dengan enggan.
Adikku sayang, pasti bisa mengalahkan rasa malasnya, candanya setengah meledek.
Aku mendorongnya hingga ia hilang keseimbangan.
Eeeh! Serunya sambil berjinjit melompat. Beberapa orang nampak memperhatikan kami. Mereka tidak tahu, kalau kakak angkatku itu paling doyan mengganggu aku.
Sehabis shalat aku membuka buka buku di sekitar situ. Dia celingukan mencariku di tempat tadi. Aku lalu berteriak memanggilnya. Akhirnya dia ikutan melihat lihat buku juga.
Syukurlah, hujan mulai mereda. Ia lalu mengajakku pulang. Takut kemalaman, alasannya. Kami lalu berlari lari kecil menuju halte bis.
Di halte, ia menarik lenganku agar posisi berdiriku agak ke tengah. Ia melihat air menciprati sebagian tubuhku. Laksana benteng, ia kemudian melindungi aku dari orang orang yang berdesakan di sana.
Tak lama bispun datang. Kondektur meloncat dari pintu dan memanggil - manggil penumpangnya.
Bis terakhir, bis terakhir! Ayo, Cibiru Ujungberung, Cibiru Ujungberung! Teriaknya.
Calon penumpang berlarian memburu pintu depan dan belakang. Panji menggenggam erat pergelangan tanganku. Untuk kemudian ia berhasil menerobos kerumunan. Alhamdulillah, kami dapat tempat duduk walaupun persis di depan pintu belakang.
Aku menengok ke luar. Malam nampak muram dirajam hujan. Panji menatapku kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dihapusnya titik titik basah yang tersisa di wajahku dengan sapu tangannya.
Dingin? Tanyanya. Diraihnya tanganku. Dilihatnya telapak tanganku. Semua ujung jariku keriput kedinginan.
Ntar sesampai di rumah, mandi pakai air hangat. Lumuri tubuhmu dengan minyak kayu putih kemudian tidurlah, pesannya.
Aku tersenyum. Ia kembali bercerita tentang sebuah situs dekat rumahnya. Beberapa batu besar berbentuk meja dan kursi yang unik. Dia ingin membawaku ke sana sekaligus mengenalkanku pada keluarganya.
Hujan masih menitik mewarnai kaca bis. Pandanganku terhalang melihat ke luar. Kabut air di kaca menggelitikku untuk berbuat sesuatu. Iseng aku membuat gambar bebek di kaca. Hal itu mencairkan kebekuan di antara kami.
Panji tertawa. Ia lalu menambahkan seekor bebek lagi di sampingnya. Lalu beberapa anak bebek di sekitarnya. Aku tertawa, kubuat sebuah tulisan di bawahnya: keluarga bebek. Treet, lalu kugarisbawahi tulisan itu. Panji tertawa renyah. Hidungnya yang mancung hampir menyentuh mukaku.
Tak terasa sudah sampai pasar Ujungberung. Artinya, sebentar lagi aku turun dan berpisah dengannya. Penumpang bis banyak yang sudah turun. Hingga yang tersisa hanya beberapa.
Aku tak bisa mengantarmu sampai ke rumah ya. Ui hati hati di jalan. Kalau ada yang mengganggu, jangan perhatikan, nasihatnya.
Depan kantor polresta bis berhenti. Kuucap salam. Dia mengantarku sampai pintu. Lalu melambaikan tangannya. Penasaran, aku menengok kembali padanya. Ia tersenyum. Senyum yang sangat manis. Hatiku berbunga bunga bahagia dibuatnya.
* * *
Ini hujan keberapa kali ya. Kau menyuapiku donat coklatmu. Sedang donat kejuku tinggal remah - remahnya saja di piring kecil itu. Tahukah kau, aku lapar. Hanya aku tak mengatakannya padamu. Tadi siang aku tak sempat makan siang, karena pacarku menelepon terus ketika aku bekerja.
Kabar gembira apa hinggga kau begitu bersemangat mengajakku bertemu di sini Ui? Tanyanya.Hujan lagi.
Aku hanya mengembangkan senyum.
Ayolah Ui, aku tak sabar lagi, setengah merajuk, merengek.
Sekarang aku sudah punya pacar, jawabku to the point.
Ada semburat kaget di mukanya. Tapi kemudian dia tersenyum.
Hoho, siapakah dia yang berhasil merebut hati adikku ini? Puitisnya.
Namanya Nels, jawabku singkat.
Kul or ker? Katanya mengutip istilah chatting.
Dosen di UNHID jurusan sastra Inggris, sumringahku.
Wah pasti kamu suka, bisa sharing masalah kepenulisan dengan dia.
Itulah mengapa aku menerima cintanya. Aku butuh dia untuk mengedit artikel artikelku, jawabku terus terang.
Hanya itu? Tanyanya aneh.
Aku mengangguk sambil memonyongkan mulutku. Dia diam.
Sorry Ui, aku harus kembali ke kantor. Ada rapat jam enam. Aku antar ke halte ya. Maaf, kali ini tak bisa mengantarmu sampai ke rumah.
Aku mengangguk setuju. Kami berjalan menyusuri tiap kios yang menjajakan baju, arloji, aksesori di pusat pertokoan itu. Sampai di dekat pintu aku mendapati suara yang aneh. Seperti serentetan benda jatuh menimpa sesuatu. Suaranya tuk tuk tuk
Orang orang berlarian ke pintu. Mereka berteriak teriak.
Hujan es, ada hujan es! Aku dan Panji pun ikut berlari dan melihat pemandangan langka itu.
Seperti batu - batu salju menimpa mobil yang sedang parkir. Tuk tuk tuk bunyinya lagi, kemudian meleleh menjadi air. Cukup lama fenomena alam itu aku saksikan bersama Panji. Diantara banyak orang yang juga melihatnya. Dan desau angin yang meliuk liuk terasa sekali membuat tubuh kedinginan. Panji tak pernah melepaskan pegangannya di tanganku sebentar pun.
Hujan mengecil. Panji memanggil ojeg payung. Ia memegang bahuku. Bergegas menuju halte, mengantarku untuk pulang.
Ketika bis melaju, ada perasaan aneh menyergapku. Ada suatu rasa kehilangan saat dia tak ada di sampingku. Terkenang saat dia tersenyum, memegang bahuku, memegang tanganku. Untuk kemudian aku tak menyadari kalau air terasa menghangatkan pipiku. Aku menangis ternyata. Bahkan untuk sebab yang tak jelas. Mengapa di hatiku ada perasaan gondok. Mengapa sebentar sekali pertemuanku dengannya. Mengapa?
Seminggu ini kita absen bertemu. Ia bilang banyak rapat di kantornya. Aku dijemput Nels tiap hari ke kantor, lalu kita makan di kafe yang mewah . Tak pernah basah basahan karena Nels selalu menyediakan payung di mobilnya.
Di kafe Dermaga, saat malam tak dihiasi hujan, bintang bintang berkedip genit, rembulan tersenyum berwibawa, sepertinya ia menjadi ibu bagi malam. Langit yang cerah, makanan yang enak, tempat yang romantis, saung saung kecil dari bilik hiasan berwarna, kolam yang dipenuhi melati air dan teratai, pohon pisang pisangan dan pot pot besar berisi bunga. Aku dan Nels menjadi bagian suasananya.
Kurebahkan kepalaku di bahunya Nels. Ia mengecup rambutku dan mengelus ngelusnya. Aku memandang rembulan. Nyaris aku tersentak karena dari wajah rembulan itu membayang senyum Panji. Aku tersentak.
Kenapa? Tanya Nels kaget. Aku bangun dari posisiku.
Tak apa, jawabku jengah.
Aku diam bersandar di tempat itu. Memandangi bintang bintang. Hujan kecil kecil mulai turun. Tanpa babibu Nels berlari ke mobil. Aku ditinggalkannya sendiri. Kembali ia membawa dua payung.
Aku berteriak dalam hati. Aku ingin bersama Panji bukan Nels. Ia akan melindungiku dengan memegangi payung, memapahku berjalan. Pada lindungan payung Panji aku menemukan kasih sayang. Nels egois, kita berpayung sendiri sendiri.
Minggunya tak tahan kutelepon Panji. Aku yakin dia tak akan menyuguhkan alasan sibuk rapat lagi. Ini kan hari minggu.
Aku banyak cerita untukmu Panji, kataku.
Hm, kali ini dia kurang antusias.
Cerita apa? Akhirnya..
Aku pergi ke kafe Dermaga bersama Nels. Ayolah, aku ingin menceritakan indahnya kafe itu. Kapan kapan kita bisa mengunjunginya. Hari ini pun tak apa.
Maaf, tapi aku cape sekali Ui. Aku ingin istirahat di rumah.
Please rayuku. Biasanya satu kata itu mampu meluluhkan hatinya. Tapi kali ini tidak.
Sorry Ui, jangan marah ya.
Aku diam tak berkutik. Tak percaya pada kenyataan yang ada. Ada sedikit perasaan perih bersemanyam di hati.
Untuk menghilangkan gundah, kuputuskan untuk membeli pakaian dalam di Palgun. Sendiri saja. Lalu aku akan pergi ke tempat biasa kami makan bersama Panji. Sedihnya, Nels pun tak bisa menemani, dia sedang ke luar kota.
Setelah keliling memilih barang yang ada, aku tertarik dengan baju senam warna coklat belang. Ketika kumenariknya, dari arah yang berlawan ada yang menariknya pula.
Eh, kata kami berbarengan. Aku lihat seorang wanita sangat cantik tersenyum padaku.
Kenapa Dian? sebuah suara terdengar.
Aku terkesiap karena sepertinya aku mengenal suara itu. Lalu wanita itu berbicara dengan jarak dekat dengan lelaki itu. Aku menganga. Jantungku berdetak cepat. Entahlah, aku merasa kosong, terbang. Laki laki itu ternyata Panji.
Panji pun kelihatan tak kalah shock. Mukanya berubah merah bak kepiting rebus. Kami jadi serba salah. Untungnya Panji cepat menguasai diri.
Ui, kenalkan ini Dian.
Wanita bernama Dian itu tersenyum ramah padaku sambil menjulurkan tangannya.
Temanmu? Tanyanya menatap mesra.
Panji mengangguk. Seperti orang yang baru kenal, kaku sekali aku menghadapi Panji. Panji pun begitu. Aku segera pamitan.
Ketika keluar pintu pertokoan itu, aku melihat sekelebat taksi melaju. Setengah berlari aku berteriak,taksi! Belanjaanku dua kantong kehempaskan di taksi.
Hujan lagi. Dari kaca mobil aku memandang gedung itu. Kubayangkan Panji sedang memesan minuman dan makanan. Lalu menghidangkannya untuk wanita itu. Siapa dia? Airmataku menitik perlahan manakala pikiranku menyimpulkan tentang status wanita itu.
Esok paginya Panji menelepon ke kantor. Berulang kali ia minta maaf. Ia ingin bertemu sore ini. Aku bilang tak bisa, aku dijemput Nels. Dia diam.
Lama sesudah itu kita tak saling menyapa. Aku sibuk dengan acara acara Nels di hari minggu. Mulai dari kumpul kumpul sesama dosenlah, off road ke bukitlah, sampai nonton bola yang semuanya tak kusuka.
* * *
Bete sekali sore ini. Tapi Nels ada acara. Tak bisa mengantarku jalan jalan. Menelepon Panji aku enggan. Aku benci padanya. Gengsiku juga besar. Makanya kuputuskan jalan jalan sendiri di Palgun.
Aku menikmati malamku di kafe biasa. Berharap Panji datang dan bercerita lagi. Ada sebulan, lama sekali. Diam diam aku merindukannya. Jujur saja kalau sebenarnya aku menyukainya bukan sebagai kakak angkat. Tapi haruskah kuberterus terang padanya?
Dua jam kuhabiskan waktu untuk duduk di kafe. Sambil menikmati makanan dan minuman yang sebenarnya sama sekali tidak kunikmati. Akupun enggan berbelanja. Seleraku hilang entah kemana.
Tiba tiba aku tak tahan ingin ke toilet. Pas di belokan toilet pria, langkahku terhenti. Aku mendengar suara yang tak asing.
Jadi kamu tak serius mencintai si Widuri?
Hei, kenapa namaku disebut sebut. Ya Tuhan, bukankah itu suara Panji?
Tidaklah, aku hanya membutuhkan statusku sebagai pria. Dan, bukankah itu suara Nels?
Tubuhku gemetar. Dagdigdugnya jantungku tak karuan.
Serius? suara Panji lagi.
Lalu kudengar suara orang seperti mendorong tubuh ke pintu.
Jangan di sini Sayang, suara Nels membobolkan air mataku. Aku berlari. Tak peduli high hell -ku. Orang mungkin menjuluki aku gila. Masa bodoh! Eskalator aku percepat dengan langkah seribuku.
Di antara hujan aku berlari. Kemudian di mesjid aku berhenti.
Menghapus terus air mataku yang tak mau berhenti mengalir. Bodoh amat orang orang melihatku curiga.
Ui. Sebuah suara menggugahku.
Aku menengok. Ryan? Kagetku.
Ryan menyalamiku hangat. Cowok yang kutaksir habis selagi SMA itu mencecarku dengan aneka pertanyaan. Bagai wadah yang tepat, aku curhat semua masalahku padanya. Pada akhirnya
Lupakan semua itu. Sekarang aku antarmu pulang. Aku ingin bertemu ayahmu untuk memintamu menjadi istriku.
Aku terkesiap. Seriuskah kau Yan?
Kamu tahu Ui sejak kelas satu SMA aku naksirmu. Tapi waktu itu aku tak punya keberanian mendekatimu.
Aku tersenyum. Lupa Panji. Lupa Nels. Di mataku hanya terbayang pernikahan lalu England dengan musim seminya. Sebuah negara dimana Ryan bekerja dan tinggal. Ryan masih saudara jauhku. Kakeknya dan nenekku adik kakak. Sejak kecil kita sudah dijodohkan. Tapi kita berdua sama pemalunya dulu.
Bye bye kalian, ceriaku dalam hati mengingat dua lelaki super aneh itu. Lihat, hujan kali ini bukan hujan airmata lagi.
Wiper di mobil Ryan bergerak gerak mengusir hujan. Bagai berkah, hujan terasa sangat menyejukkan hatiku kali ini.

Ujungberung, 15 Desember 2010

Cerpen ini pernah diikutsertakan dalam Lomba Mencari 5 Cerpen Tentang Hujan, tapi tidak berhasil menyabet gelar juara.


TAGS cerpen cerpen psikologi


-

Author

Follow Me