BALADA REMBULAN DAN MENTARI

20 Jan 2011

Rembulan dan Mentari adalah dua kakak beradik yang saling menyayangi. Sejak bayi mereka dititipkan pada kakek dan neneknya. Adapun alasan mereka dititipkan berbeda. Mentari, kakaknya dititipkan karena sang ibu sakit melulu. Tetapi rembulan, dia dititipkan karena mempunyai wajah yang tidak seindah saudara-saudaranya.

Tetapi mereka berdua sungguh beruntung. Kakek dan nenek mencintai mereka dengan tulus. Apa yang terjadi, mereka berdua menjadi orang yang tahu harga diri, mengerti esensi perjuangan dan tidak suka meminta, mengemis apalagi menjilat. Mereka tidak protes selama seumur hidup tidak merasakan biaya hidup dari orang tuanya. Bahkan nyaris tanpa sentuhan kasih sayang dari keduanya. Sepertinya gelar anak terbuang cocok ditujukan pada mereka. Atau lebih tepatnya mungkin anak yang dibuang.

Menjelang dewasa, kedua orangtuanya meminta mereka untuk tinggal bersama. Bukan untuk membayar hutang kasih sayang yang selama ini tak pernah mereka berikan. Tetapi dengan lantang sang mama (kalau pantas disebut demikian) meminta mereka untuk membantu pekerjaan rumah tangga. Kakek dan nenek tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi mereka hanya orang tua angkat saja.

Lalu pergilah Rembulan dan Mentari ke rumah itu. Rumah orang tuanya yang cukup besar dan mewah. Segala peralatan elektronik tersedia. Tv yang besar, mesin cuci, kulkas, mobil dan segala barang yang serba wah.

Tapi Rembulan dan Mentari tidak serta merta menjadi anak. Kedudukan mereka lebih tepat dianggap sebagai pembantu. Rembulan dan Mentari mempunyai tugas yang banyak di rumah itu.

Misalnya Mentari, dia ditugaskan mencuci piring yang setiap harinya menumpuk. Kemudian menyapu halaman di tengah kegelapan dini hari. Mandi, menyiapkan sarapan untuk keluarga kemudian pergi sekolah.

Rembulan bertanggung jawab melap kaca, mengepel dan memasak. Sedangkan mencuci dan menyetrika adalah tugas mereka berdua. Sementara sang mama, kerjanya hanya menunuk-nunjuk, ini itu, lalu tenggelam dalam tangisannya menonton telenovela. Dari pagi sampai siang, masih disambung film India kesukaannya.

Dan para adiknya, tiga orang pria, mereka bangun siang. Tiap hari harus dibangunkan Air panas sudah tersedia untuk mereka mandi. Juga roti berlapiskan mentega yang ditaburi meses coklat. Dihidangkan dalam piring ceper. Menantang perut mereka untuk segera diisi sarapan. Rembulan dan mentari hanya makan roti itu jika ada sisanya saja.

Mentari termasuk anak yang cerdas di sekolah. Tapi ketika ia minta uang lima ribu rupiah untuk membeli buku, mamanya marah luar biasa. Suaranya sangat tak enak didengar. Kata-katanya lebih pedas dari cabe keriting. Membuat hati tersayat-sayat rasa diiris sembilu. Padahal orang tua mereka hanya memberi jajan sekedarnya, nyaris hanya cukup untuk ongkos pulang pergi sekolah saja. Tetapi tiga pria itu, mereka selalu berlebihan uang jajannya.

Sering Mentari dan Rembulan diperlakukan layaknya pembantu oleh adik-adiknya juga Tapi itu sudah biasa. Yang luar biasa adalah ketika Mentari dan Rembulan meminta uang yang jumlahnya tak seberapa sebagai uang jajan mereka. Selama ini mereka diberi kakek neneknya tiap bulannya secara sembunyi-sembunyi. Apa yang terjadi, sang mama yang seminggu dua kali membeli baju sekelas butik itu marah bukan main. Rembulan dan Mentari diusir dari rumah malam-malam. Rembulan malah sempat protes. Dia bilang, kalau tidak dicintai mengapa aku dilahirkan ke dunia ini? Tetapi mama mereka menjawab dengan entengnya. Terpaksa, karena nafsu.

Kalaulah tidak karena cinta, angaplah upah mereka bekerja di rumah mamanya itu. Bukankah kalau menggaji pembantu, permintaan mereka tidaklah seberapa? Baik dari segi kelayakan maupun jumlahnya.

Akhirnya jam sepuluh malam mereka diantar sopir papanya ke rumah kakek dan neneknya. Kakeknya menasihati keduanya agar bersabar. Dan laki-laki yang bernama papa itu hanya mengeluarkan sebuah kata maaf tanpa sedikit pun membuat tindakan terhormat. Ia sendiri rupanya sudah sangat takut pada harimau itu. Sehingga semua perbuatan istrinya, apa saja, selalu dibiarkannya.

Mentari tumbuh menjadi seorang yang memendam luka hati terus-terusan. Semua perkataan dan perbuatan mamanya terekam kuat di otaknya. Mulai dari mamanya memukulnya sekuat tenaga hingga punggungnya merasa panas dan sakit luar biasa. Bahkan selama berhari-hari. Alasannya sepele. Tiap hari sepulang kerja Mentari selalu makan di luar ditraktir temannya. Rembulan pun pernah dibenturkan kepalanya ke kursi. Sudah bilang ampun, sang penguasa tetap tidak peduli.

Kalau anak laki-laki, mereka super enak. Semua diberi motor, diberi kemudahan, kelebihan dan segala yang serba enak lainnya.

Rembulan kerap tanpa alasan tiba-tiba diludahi sang mama. Mengadulah ia pada kakaknya, Mentari. Karena kakek dan neneknya sudah lama tiada. Air mata membasahi pipinya.

Salah saya apa Kak Mentari, tiba-tiba ia meludah di hadapan saya. Kemarin beberapa hari ia melempar sampah usus busuk ke halaman rumah saya. Itu masih bisa kumaafkan. Tapi tiba-tiba ia meludah tanpa sebab. Kenapa ia begitu benci padaku? Tapi biasanya kalau sudah begini aku akan mendapatkan rezeki besar, tuturnya.

Tiga hari kemudian, proyeknya bersama suaminya berhasil. Uang belasan juta didapatnya. Ia pun mengganti mobilnya dengan yang lebih bagus.

Mentari sering bertanya bagaimana rasanya diperlakukan buruk oleh mamanya. Rembulan bilang ia tak pernah menyimpan dendam. Ia bilang dendam itu merugikan. Ia pasrahkan semuanya pada Tuhan.

Tetapi Mentari, ia tidak bisa seperti Rembulan. Mentari adalah Mentari. Ia tak pernah bisa begitu saja menerima. Baginya semua sikap buruk mamanya sampai saat ini harus mendapat teguran dari Tuhan. Mentari pikir, setiap orang berhak menjadi baik sebelum ajal menjemputnya. Karena neraka adalah hal yang paling mengerikan dari semua hal yang mengerikan yang pernah ada.

Ketika rumah kontrakan mamanya yang satu blok itu terbakar dengan sebab yang
sepele. Mentari gemetar dibuatnya. Ia merasa Tuhan ikut campur dalam musibah itu untuk memberi peringatan. Baru saja mamanya memaki-maki Rembulan karena ada air krannya menetes dari pipanya. Rembulan menampungnya karena merasa sayang air itu terbuang percuma. Dan lagi dia baru saja memaki penghuni rumah kontrakannya karena terlambat membayar dan kemudian diusir pergi dengan kata-kata makian yang keji.

Api susah dihentikan. Mobil pemadam yang jumlahnya lima unit baru datang setelah api habis melahap semuanya. Ratusan orang menonton dan hanya sedikit yang membantu memadamkan.

Si empunya kontrakan malu jadinya. Apalagi guru ngajinya bilang di hadapan para jemaah semuanya. Bahwa kejadian itu bukan sekedar musibah atau cobaan tetapi hukuman bagi seorang pendurhaka. Semenjak itu ia tak mengaji atau berguru pada ustadzah itu lagi.

Bukannya berpikir. Ternyata tingkahnya makin menjadi-jadi. Karena malu dianggap tak mampu, ia memaksa menjual rumah orang tuanya. Dan kontrakan itu kembali berdiri lebih megah. Sedihnya lagi, tiap Mentari dan Rembulan berkunjung ke rumah keluarga papanya, yang didapati hanya cerita-cerita lama yang menceritakan betapa buruknya wanita itu di masa lalu.

Rembulan dan Mentari makin sedih. Sebenarnya mereka hanya mendapat perlakuan sepele. Rembulan dan Mentari jauh lebih sadis dari itu. Tapi mereka tidak pernah menceritakan kepada siapapun. Karena mereka berdua yakin, tak akan ada seorang pun percaya bahwa di dunia ini ada seorang ibu yang demikian dzalim memperlakukan anak kandungnya.

Rembulan dan Mentari belajar tegar. Menerima semua apa adanya. Bagi mereka tak ada yang pantas ditakuti, walaupun kadang kalau emosional, wanita itu mengacung-acungkan golok, entah mau apa. Mereka lebih tenang menjauhi konflik dan selalu memohon perlindungan Tuhan. Mereka percaya Tuhan tidak buta, tidak tuli dan tidak akan membiarkan hambanya terdzalimi terus-terusan. Walau begitu sikap hati-hati terus diterapkan sampai sekarang. Semoga Rembulan dan Mentari senantiasa ada dalam lindungan Tuhan. Amien.

Hikmah :

Seorang ibu yang mempunyai kelainan jiwa akan berdampak buruk pada anak-anaknya. Hal itu bisa menimbulkan penderitaan psikologis yang berkepanjangan bagi anak yang teraniaya. Seringkali memang anaklah yang menjadi korban, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan tanpa perlindungan dari siapa pun. Pihak luar sama sekali tidak bisa membantu karena dianggap memasuki wilayah privasi seseorang.

Dan bagi pihak keluarga, hal-hal seperti itu tidak dikondisikan sebagai kelainan jiwa. Sehingga merasa tidak memerlukan jasa psikolog atau psikiater untuk menyembuhkannya. Bagi kultur masyarakat Indonesia kelainan jiwa itu hanya gila saja. Padahal ada banyak macamnya mulai dari tingkat yang paling rendah sampai yang paling parah.

Setiap anak berhak mendapat perlakuan yang adil. Tidak dibedakan apakah ia seorang perempuan atau laki-laki. Tetapi ada sisi positif dari perlakuan mama di atas, anak perempuan menjadi pribadi yang tegar, mandiri dan tahan banting. Sebaliknya anak laki-laki, karena terbiasa dimanjakan, maka tumbuh menjadi pribadi yang lembek, tidak berani menghadapi tantangan dan selalu mencari segala sesuatu yang mudah saja.

Jika suatu saat Anda menjadi orang tua, perlakukanlah anak dengan cinta yang benar. Karena anak adalah manusia juga, yang punya hati, punya perasaan juga punya harapan dan cita-cita. Dan ia juga berhak untuk mendapatkan kebahagiaan seperti yang diimpikannya.

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah diBlogCamp.


TAGS lomba orang tua dzalim


-

Author

Follow Me